rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Kamis, 03 November 2011

Apa itu App2SD dan App2SD+ ?

Bagi kawan-kawan yang sudah pernah membaca atau mungkin mengaplikasikannya di sini saya hanya coba mengulas kembali, apa itu App2SD menurut pemahaman saya dan juga dari artikel-artikel yang pernah saya baca. App2SD, mungkin bisa saya ekstrak menjadi Application to SD.

Untuk device dengan OS Android secara default aplikasi akan selalu terpasang (installed) pada internal memory. Jikalau internal memory ukurannya besar maka tidak jadi masalah, bagaimana jika kecil. Case ini saya alami ketika saya flashing ROM android yang tidak support EXT partition. Oke halt sebentar, apa itu EXT? EXT adalah salah satu tipe partisi. Mungkin kawan-kawan lebih awam dengan istilah FAT32 atau NTFS yang ada pada hard drive PC kawan-kawan. EXT adalah tipe partisi juga dan jenis ini hanya bisa dibaca pada OS Linux, OS Windows tidak akan bisa membacanya.

Oke kontinyu, kenapa harus ada EXT partisi, partisi ini akan kita gunakan sebagai alokasi bayangan yang akan dibaca oleh OS sebagai expand-nya internal memory. EXT partisi kita create di eksternal memory (baca : SD Card), biasanya untuk ROM-ROM Android dibuat dengan ukuran 500 MB hingga 1 GB. Ingat sebelum kita apply App2SD kita harus terlebih dahulu membuat (create) partisi ini (baca : EXT partition). App2SD adalah semacam script, yang fungsinya ketika sebuah aplikasi terpasang (installed) di device Android, OS akan menyimpannya di EXT partition yang sudah dialokasikan, yang seolah-olah dibaca sebagai bagian dari internal memory.

Demikian, jadi dengan metoda App2SD ini akan banyak menolong keterbatasan memory ketika kita akan memasang banyak aplikasi. Ada aplikasi-aplikasi yang mungkin pernah kawan-kawan jumpai di Market, kenapa kita tidak menggunakan aplikasi itu saja, tanpa susah-susah membuat EXT partition? Dengan metode ini ada beberapa keterbatasan, antara lain, kita harus memindahkannya manual (tidak otomatis), kemudian tidak semua aplikasi bisa di force untuk dipindahkan ke SD, bisa karena limitasi dari si pembuat aplikasi atau bisa juga karena compatibility issue dan yang terakhir memang kita execute untuk memindahkannya ke SD, namun sebenarnya masih ada part data yang tertinggal di internal memory.

Teknologi berikutnya adalah App2SD+. Pada proses pemasangan (install) aplikasi, aplikasi ini akan disimpan di internal memory, pada dua lokasi. Dua lokasi? Ya, ada namanya Dalvik Cache, disinilah tempat penyimpanan data instalasi, hal ini juga akan memakan porsi internal memory. Pada App2SD+, Dalvik Cache ini akan dipindahkan secara otomatis ke SD Card, jelas sudah metode ini akan membuat kapasitas memory menjadi lebih efisien. Sebenarnya dengan App2SD pun kita masih bisa memindahkan secara manual Dalvik Cache, adalah aplikasi dengan nama App2SD GUI yang dibuat oleh Dark Tremor.

Dari semua metode pembuatan bagian internal memory di SD Card, tentu saja akan berpengaruh terhadap performa sistem. Data yang dibaca dari eksternal memory membutuhkan lebih besar latency, untuk itu type dan merk SD Card kita menjadi parameter yang harus kita perhatikan. Anjuran saya, gunakan SD Card dengan merk yang sudah mumpuni, bisa dilihat dari review dan test benchmark. Dan juga type-nya, gunakan SD Card dengan class tertinggi, class ini merepresentasikan kecepatan tulis (writting speed) dari SD Card. Namun hal ini juga harus disesuaikan dengan kemampuan device kita, buat apa beli mahal-mahal kalau spesifikasi device kita tidak mendukung.

Baik, mungkin demikian, di bawah ini adalah salah satu sumber yang memuat lebih detil ulasan di atas. Mudah-mudahan bermanfaat.

Sekian,

0 komentar:

Poskan Komentar